Menjadi diri sendiri

Alkisah di puncak sebuah mercu suar, berdiri dengan gagah sebuah lampu mercusuar kokoh dengan sinarnya yang kuat memecah kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan dalam mencari arah dan petunjuk menuju pulang.

Di sisi seberang, dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak yang kecil dan dekil setiap malam melihat dengan perasaan sedih dan iri ke arah lampu nan terang dari si mercusuar. Lampu minyak mengeluhkan kondisinya dan berkata penuh ingin, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah kecil yang gelap, pengap dan kotor. Tidak ada yang memperhatikanku karena letakku yang terpencil, buruk dan jorok. Sungguh menyedihkan, memalukan dan tidak terhormat.
Sedangkan lampu mercusuar di atas sana tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah., alangkah hebatnya seandainya aku berada di dekat lampu mercusuar itu, pasti hidupku lebih berarti, karena pasti akan ada banyak orang yang melihat kepadaku dan akupun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya, seperti lampu mercusuar.

Hampir setiap malam lampu minyak berkhayal. Suatu ketika di malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu
minyak untuk menerangi sepanjang jalannya menuju mercusuar. Setiba di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar.

Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan! Namun apa yang didapatnya? Kegembiraannya hanya sesaat. Lampu mercusuar dan dirinya ternyata jauh berbeda. Perbandingan cahaya mereka tidak seimbang, hal ini membuat tidak seorangpun melihat atau memperhatikan lampu minyak, bahkan tidak ada yang menyadari  keberadaannya di samping lampu mercusuar yang begitu terang. Dari kejauhan si lampu minyak tidak tampak sama sekali karena ia begitu lemah, kecil dan temaram.

Beberapa hari kemudian, petugas mercusuar naik kembali ke puncak mercusuar dan mengambil lampu minyak,
membawanya kembali untuk menerangi sepanjang jalan pulangnya menuju ke rumah. Tiba-tiba, sang penjaga
mercusuar terpeleset karena ia menginjak bebatuan rapuh. Namun, ia tak jatuh karena dirinya sigap meraih
bekas pohon yang terlihat olehnya berkat penerangan sinar dari lampu minyak. Petugas mercusuar tersenyum
seraya berkata, “Untung ada kau lampu minyak, meski cahayamu tidak seterang lampu mercusuar, tapi kamulah
yang selalu menemani dan menyelamatkanku di kegelapan malam.”

Mendengar itu, lampu minyak menyadari satu hal. Ternyata untuk menjadikannya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat dan menjadi dirinya sendiri. Meski tempat itu kotor, kecil dan pengap, meski nyalanya tak sebesar dan seterang lampu mercusuar. Sekecil apapun dirinya, lampu minyak bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain.

dari: BaliPost, 23 januari 2011 hal. 4

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.